Cuma 7 Bulan di Meta, Peneliti AI Kelas Dunia Ini Kini Gabung OpenAI
Artificial Intelligence (AI)

Cuma 7 Bulan di Meta, Peneliti AI Kelas Dunia Ini Kini Gabung OpenAI

Jakarta, 26 Februari 2026 - Dunia kecerdasan buatan (AI) lagi-lagi dihebohkan oleh “transfer” besar dari Silicon Valley. OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT dan model video Sora, resmi merekrut Ruoming Pang, peneliti AI top dunia yang baru tujuh bulan lalu bergabung dengan Meta.

Yang bikin menarik, Pang bukan sosok sembarangan. Ia dulunya memimpin tim foundation models di Apple dan pernah kerja di Google sebagai kepala riset pengenalan suara berbasis AI. Kini, ia resmi berlabuh di OpenAI — perusahaan yang jadi simbol kekuatan AI generatif saat ini.

Perang Talenta AI Semakin Ganas

Kepindahan Pang ke OpenAI menambah panjang daftar “perpindahan bintang” di industri AI global. Meta selama ini dikenal rajin membajak peneliti dari Google DeepMind, OpenAI, dan Anthropic lewat divisi baru mereka, Superintelligence Labs, yang digawangi langsung oleh CEO Mark Zuckerberg.

Namun, langkah balik Pang ke OpenAI memperlihatkan bahwa misi mencetak Artificial General Intelligence (AGI) — AI yang bisa berpikir seperti manusia — masih jadi magnet paling kuat bagi para peneliti.

“Kalau dunia sepak bola punya bursa transfer mahal, dunia AI juga punya perang talenta seperti ini,” ujar Ethan Zhao, analis dari Futurum Tech Research. “Bedanya, yang diperebutkan bukan pemain bola, tapi otak-otak jenius yang bisa menentukan masa depan teknologi.”

Siapa Ruoming Pang Sebenarnya?

Pang lahir di Shanghai dan meraih gelar doktor di bidang ilmu komputer dari Princeton University. Ia berkarier di Google selama lima tahun sebelum pindah ke Apple pada 2021. Di sana, ia ikut mengembangkan sistem foundation model yang jadi dasar fitur Apple Intelligence seperti Genmoji, penjadwalan cerdas, dan Siri versi AI.

Saat pindah ke Meta pada pertengahan 2025, ia bergabung dalam proyek Superintelligence Labs, divisi superelit yang fokus mengembangkan model AI dengan kemampuan manusia. Tapi setelah kurang dari setahun, Pang memilih pindah ke OpenAI.

Daya Tarik OpenAI yang Sulit Ditolak

Di OpenAI, Pang kabarnya akan memimpin proyek riset model generasi berikutnya, penerus GPT-5.
“Ruoming membawa pengalaman lintas tiga dunia besar — Google, Apple, dan Meta. Ia punya perspektif unik yang sangat langka,” kata CEO OpenAI Sam Altman lewat akun X (Twitter).

Buat Meta, kepergian Pang jadi pukulan telak di saat perusahaan itu tengah berjuang mempertahankan tim riset terbaiknya. Beberapa peneliti FAIR (Fundamental AI Research) dan ilmuwan Superintelligence Labs juga dikabarkan ikut hengkang dalam beberapa bulan terakhir.

Menuju Masa Depan AGI

Menurut Dr. Maya Richardson, profesor AI di Stanford University, langkah ini menunjukkan pergeseran paradigma besar di dunia riset.
“Bagi peneliti, OpenAI bukan sekadar perusahaan. Ini tempat di mana mereka bisa berada di garda terdepan dalam menciptakan sistem yang mungkin melampaui kecerdasan manusia,” ujarnya.

Penutup

Perekrutan Ruoming Pang bukan cuma soal karier pribadi, tapi juga soal arah industri AI global. Di tengah kompetisi yang makin ketat, siapa pun yang mampu mengumpulkan talenta terbaik — dialah yang berpeluang paling besar untuk memimpin revolusi AI berikutnya.

Artikel Terkait